Jumat, 26 Desember 2014

Dimana letak kebahagiaan sebenarnya


John C Maxwell suatu ketika pernah didapuk menjadi seorang pembicara di sebuah seminar bersama istrinya. Ia dan istrinya, Margaret, diminta menjadi pembicara pada beberapa sesi secara terpisah. Ketika Maxwell sedang menjadi pembicara, istrinya selalu duduk di barisan terdepan dan mendengarkan seminar suaminya. Sebaliknya, ketika Margaret sedang menjadi pembicara di salah satu sesi, suaminya selalu menemaninya dari bangku paling depan.
Ceritanya, suatu ketika sang istri, Margaret, sedang menjadi pembicara di salah satu sesi seminar tentang kebahagiaan. Seperti biasa, Maxwell duduk di bangku paling depan dan mendengarkan. Dan di akhir sesi, semua pengunjung bertepuk tangan. Yang namanya seminar selalu ada interaksi dua arah dari peserta seminar juga kan? 
Di sesi tanya jawab itu, setelah beberapa pertanyaan, seorang ibu mengacungkan tangannya untuk bertanya. Ketika diberikan kesempatan, pertanyaan ibu itu seperti ini, ”Miss Margaret, apakah suami Anda membuat Anda bahagia?”
Seluruh ruangan langsung terdiam. Satu pertanyaan yang bagus. Dan semua peserta penasaran menunggu jawaban Margaret. Margaret tampak berpikir beberapa saat dan kemudian menjawab, ”Tidak.”
Seluruh ruangan langsung terkejut. ”Tidak,” katanya sekali lagi, ”John Maxwell tidak bisa membuatku bahagia.”
Seisi ruangan langsung menoleh ke arah Maxwell. Dan Maxwell juga menoleh-noleh mencari pintu keluar. Rasanya ingin cepat-cepat keluar.
Kemudian, lanjut Margaret, ”John Maxwell adalah seorang suami yang sangat baik. Ia tidak pernah berjudi, mabuk-mabukan, main serong. Ia setia, selalu memenuhi kebutuhan saya, baik jasmani maupun rohani. Tapi, tetap dia tidak bisa membuatku bahagia.”
Tiba-tiba ada suara bertanya, ”Mengapa?”
”Karena,” jawabnya, ”tidak ada seorang pun di dunia ini yang bertanggung jawab atas kebahagiaanku selain diriku sendiri.”
Dengan kata lain, maksud dari Margaret adalah, tidak ada orang lain yang bisa membuatmu bahagia. Baik itu pasangan hidupmu, sahabatmu, uangmu, hobimu. Semua itu tidak bisa membuatmu bahagia. Karena yang bisa membuat dirimu bahagia adalah dirimu sendiri.
Kamu bertanggung jawab atas dirimu sendiri. Kalau kamu sering merasa berkecukupan, tidak pernah punya perasaan minder, selalu percaya diri, kamu tidak akan merasa sedih. Sesungguhnya pola pikir kita yang menentukan apakah kita bahagia atau tidak, bukan faktor luar.

Bahagia atau tidaknya hidupmu bukan ditentukan oleh seberapa kaya dirimu, seberapa cantik istrimu, atau sesukses apa hidupmu. Ini masalah pilihan: apakah kamu memilih untuk bahagia atau tidak.

Kamis, 04 Desember 2014

Mie instan mengandung lilin?

...
Saat merebus mi instan, air rebusan
Akan berwarna keruh. Akibatnya, tak sedikit muncul kekhawatiran bahwa mi instan dilapisi lilin agar tahan lama sehingga saat direbus air yang digunakan akan berubah menjadi keruh.
"Itu mitos, tidak ada bahan lilin. Sebab, proses
pembuatan mi instan seperti ibu bikin adoan
pasta saja. Cuma memang minya ini digoreng
sampai kering (deep fried)," tutur Astri Kurniati S.T, MAppSc dari Nutrifood Research Centre. Ia menambahkan, data Food Research
International tahun 2008 menyebutkan karena
proses deep fried tersebutlah mi instan menjadi lebih awet. Selain itu, deep fried juga
menyebabkan mi instan kaya akan lemak jenuh sehingga tidak dianjurkan untuk dikonsumsi berlebihan.
"Direbus terus airnya keruh itu karena ada
sebagian lemak atau pati yang terlepas.
Namanya digoreng, minyak jenuh yang menempel saat kita rebus kan akan keluar," tutur Astri di sela-sela Peluncuran buku 'Buka Fakta! 101 Mitos Kesehatan' di Plaza Senayan, Jakarta, seperti ditulis Kamis (4/12/2014).
Selain membatasi konsumsi mi instan, jika
memang ingin mengonsumsi mi instan, Astri
menyarankan kombinasikan mi dengan sayuran seperti sawi, kol, dan tomat, serta tambahan telur sebagai sumber protein. Jika dibutuhkan, bisa merebus mi dua kali dengan mengganti air rebusan yang pertama.
Anda juga bisa mengurangi penggunaan bumbu mi karena dengan begitu, setidaknya Anda sudah memangkas jumlah asupan garam harian. Sebab, dalam bumbu mi instan, atau bumbu produk makanan instan lain garam umumnya digunakan sebagai penambah rasa.
"Boleh makan mi tapi sebaiknya dibatasi dan
diakali ketika mengonsumsi minyak."