Sabtu, 29 Agustus 2015

Cara bahagiakan orangtua

1. Jangan berkata ah, nanti, terserah,berkata dengan suara tinggi, mendebat, apalagi membentak. kepada iorangtua, lebih² kepada ibu.

2. Bangunlah pagi hari dan laksanakanlah dulu perintah Allah setelah itu sapa mereka dengan senyuman dan bantulah pekerjaan rumah mereka. Seprti menyapu, mencuci piring, menata tempat tidur dan lain-lain.

3. Cium tangan mereka ketika hendak atau sepulang dari berpergian dan selalu ucapkan salam.

4. Jangan membentak mereka dan jangan membuat mereka menangis.

5. Makanlah dengan lahap masakan ibumu meskipun kamu kurang suka. dan jangan ragu memuji kelezatannya.

6. Bersihkanlah setiap pagi kendaraan mereka sebelum mereka berangkat bekerja.

7. Ajak mereka bicara dan hiburlah mereka.

8. Semangati mereka karena baginya kamu lah api semangat dalam kehidupannya.

9. Jadilah penenangnya ketika mereka bersedih dan jadilah pelindungnya saat mereka berada dalam bahaya karena saat kamu masih kecil mereka mati-matian menjagamu.

10. Jadilah kebanggaannya dengan prestasi yang kamu punya.

11. Buatkan minuman saat mereka pulang kerja dan sambut mereka dengan keceriaan, karena mereka suka jika tahu kamu senang saat mereka pulang.

12. Tanpa disuruh pijatlah kedua kaki mereka, karena bagian kakilah yang terasa sangat lelah setelah seharian bekerja.

13. Share kejadian sehari-hari yang kamu alami sehingga mereka merasa muda kembali saat mengingat kembali masa muda mereka yang mungkin saat ini kamu alami.

14. Jangan pelit kepada mereka (terutama uang), karena bagaimanapun semua jasa mereka tidak ternilai dengan uang sebanyak apapun.

15. Jangan membantah mereka, karena biasanya mereka akan marah dan tanpa sadar semakin bertambah tua.

16. Turuti nasihat mereka selama nasihat itu baik, karena sesungguhnya mereka merasa tenang saat kalian menuruti nasihat mereka.

Jumat, 03 April 2015

13 Pengamalan Rutin

13 PENGAMALAN RUTIN & keutamaannya



ﻻَﺍِﻟَﻪَ ﺍِﻻَّﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺣْﺪَﻩُ ﻻَﺷَﺮِﻳْﻚَ ﻟَﻪُ ﻟَﻪُ ﺍﻟْﻤُﻠْﻚُ ﻭَﻟَﻪُ ﺍﻟْﺤَﻤْﺪُﻭَﻫُﻮَ ﻋَﻠَﻰ ﻛُﻞِّ ﺷَﻴْﺊٍ ﻗَﺪِﻳْﺮ
Artinya :
Tidak ada Tuhan selain Alloh yang Esa, aku tidak menyekutukan pada Alloh, kerajaan milik Alloh, bagi Alloh segala puji dan Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu
1. Dibaca sehari 100X Keutamaannya :
* Mendapatkan pahala seperti memerdekakan 10 budak, * Mendapatkan 100 kebaikan, * Dihapus 100 keburukan, * Terjaga dari godaan Syaitan .





ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻩِ

Artinya
Alloh Maha Suci dengan memuji kepada Alloh

2. Dibaca 100X , Diampuni dosanya walaupun semisal buihnya lautan .



– ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻩِ ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍﻟْﻌَـﻈِﻴْﻢِ

Artinya
Alloh Maha Suci yang Agung, Alloh Maha Suci dengan memuji kepada Alloh

3. Kalimat yg disenangi Alloh, ringan diucapkan tapi berat timbangan amalnya .



ﻻَﺍِﻟَﻪَ ﺍِﻻَّﺍﻟﻠﻪُ ﻭَﺍﻟﻠﻪُ ﺍَﻛْـﺒَﺮُ ﻭَﻻَ ﺣَﻮْﻝَ ﻭَﻻَﻗُﻮَّﺓَ ﺍِﻻَّ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ

Tidak ada Tuhan selain Alloh, Alloh Maha Besar, tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan Alloh.

4. Diampuni dosanya walaupun semisal buihnya .lautan



ﺍَﺳْـﺘَﻐْﻔِﺮُﺍﻝﻟﻪَ ﺍﻟَّﺬِﻯ ﻻَﺍِﻟَﻪَ ﺍِﻻَّﻫُﻮَﺍﻟْﺢَﻱَّ ﺍﻟْﻘَﻴُّـﻮْﻡَ ﻭَﺍَﺗُﻮْﺏُ ﺍِﻟَﻴْﻪِ

Artinya
Saya minta ampun kepada Alloh, yang tidak ada Tuhan kecuali Dia, Dzat Yang Hidup, Dzat Yang Tegak, saya tobat kepada Alloh.

5. Diampuni dosanya walaupun lari dari perang .fisabilillah



ﺭَﺿِﻴْﺖُ ﺑِﺎﻟﻠﻪِ ﺭَﺑًّﺎ ﻭَﺑِﺎْﻻِﺳْﻼَﻡِ ﺩِﻳْﻨًﺎ ﻭَﺑِﻤُﺤَﻤَّﺪٍ ﺻَﻠَّﻯﺎﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢْ ﺭَﺳُﻮْﻻً

Artinya
Saya ridho Alloh sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Nabi Muhammad saw sebagai Utusan.

6.Wajib masuk surga bagi yang membacanya .




ﺳُﺒْـﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺍَﺷْـﻬَﺪُ ﺍَﻥْ ﻻَﺍِﻟَﻪَ ﺍِﻻَّ ﺍَﻧْﺖَ ﺍَﺳْـﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺍَﺗُﻮْﺏُ ﺍِﻟَﻴْﻚَ

Artinya
Maha Suci bagi Engkau (Alloh), ya Alloh dengan memuji kepada Mu, saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Engkau, saya minta ampun kepada Mu, dan saya tobat kepada Mu.

7. Dibaca ketika akan berdiri dari duduk, diampuni dosanya selama duduk .



ﺭَﺏِّ ﺍﻏْﻔِﺮْﻟِﻰ ﻭَﺗُﺐْ ﻋَﻠَﻲَّ ﺍِﻧَّﻚَ ﺍَﻧْﺖَ ﺍﻟﺘَّﻮَّﺍﺏُ ﺍﻟﺮَّﺣِﻴْﻢِ

Artinya
Wahai Tuhanku ampunilah aku, semoga menerima tobatku, sesungguhnya Engkau Dzat yang menerima tobat lagi Maha Penyayang.

8. Dibaca 100X ketika duduk .



ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻯﻼَﻳَﻀُﺮَﻊَﻣُّ ﺍﺳْﻤِﻪِ ﺷَﻴْﺊٌ ﻓِﻯﺎْﻻَﺭْﺽِ ﻭَﻻَﻓِﻯﺎﻟﺴَّﻢَﺍﺀِ ﻭَﻫُـﻮَﺍﻟﺴَّﻤِﻲُﻉْ ﺍﻟْﻌَﻠِﻴْﻢِ

Artinya
Dengan nama Alloh Dzat yang tidak memelaratkan beserta namaNya sesuatu dibumi dan tidak memelaratkan dilangit dan Dia Maha Mendenngar lagi Maha Mengetahui.

9.Dibaca 3X setiap pagi dan petang .



ﺍَﻟﻠّﻬُﻢَّ ﺍَﻧْﺖَ ﺭَﺑِّﻰ ﻻَﺍِﻟَﻪَ ﺍِﻻَّ ﺍَﻧْﺖَ ﺧَﻠَﻘْﺘَﻨِﻰ ﻭَﺍَﻧَﺎﻋَﺒْﺪُﻙَ ﻭَﺍَﻧَﺎﻋَﻠَﻯﻌَﻪَﻙِﺩْ ﻭَﻭَﻋْﺪِﻙَ ﻣَﺎﺍﺳْﺘَﻄَﻌْﺖُ ﺍَﻋُﻮْﺫُﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﺷَﺮِّﻣَﺎﺻَﻨَﻌْﺖُ ﻭَﺍَﺑُﻮْﺀُ ﺍِﻟَﻴْﻚَ ﺑِﻨِﻌْﻤَﺘِﻚَ ﻋَﻠَﻲَّ ﻭَﺍَﻋْﺘَﺮِﻑُ ﺑِﺬُﻧُﻮْﺑِﻰ ﻓَﺎﻏْﻔِﺮْﻟِﻰ ﺫُﻧُﻮْﺑِﻰ ﺍِﻧَّﻪُ ﻻَﻳَﻐْﻔِﺮُﺍﻟﺬَُﺏْﻮُﻧّ ﺍِﻻَّ ﺍَﻧْﺖَ

Artinya :
Ya Alloh Engkau Tuhanku, tidak ada Tuhan kecuali Engkau yang telah menciptakan aku dan aku hambaMu dan aku pada agamaMu dan metetapi janjiMu sepenuh kemampuanku, aku berlindung padaMu dari jeleknya apa-apa yang bernuat aku dan aku tobat padamu dengan nikmatMu kepadaku dan aku mengakui dosa- dosaku maka ampunilah aku atas dosa-dosaku, sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau.
10. Raja Istighfar, dibaca pagi dan petang jika mati Insha Allah masuk surga .


ﻻَﺍِﻟَﻪَ ﺍِﻻَّﺍﻟﻠﻪُ ﺍﻟْﻌَﻠِﻲُّ ﺍﻟْﺤَﻠِﻴْﻢُ ﻻَﺍِﻟَﻪَ ﺍِﻻَّﺍﻟﻠﻪُ ﺭَﺏُّ ﺍﻟْﻌَﺮْﺵِ ﺍﻟْﻌَﻈِﻴْﻢِ ﻻَﺍِﻟَﻪَ ﺍِﻻَّﺍﻟﻠﻪُ ﺭَﺏُّ ﺍﻟﺴَّﻤَﻮَﺍﺕِ ﻭَﺍْﻻَﺭْﺽِ ﻭَﺭَﺏُّ ﺍﻟْﻌَﺮْﺵِ ﺍﻟْﻜَـﺮِﻳْﻢِ
Artinya:
Tidak ada Tuhan kecuali Alloh Yang Maha Luhur lagi Aris, tidak ada Tuhan kecuali Alloh Tuhannya Arsy yang Agung, tidak ada Tuhan kecuali Alloh Tuhannya langit dan bumi dan Tuhannya Arsy yang Mulia.

11. Keutamaanya : Diwaktu susah Alloh akan melapangkan hatinya dan apabila hatinya senang agar tidak susah lagi .



ﺳُﺒْﺤَـﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪِ – ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ِﻟﻠﻪِ – ﻻَﺍِﻟَﻪَ ﺍِﻻَّﺍﻟﻠﻪُ – ﺍَﻟﻠﻪُ ﺍَﻛْـﺒَﺮُ
Artinya
Maha Suci Alloh, Segala Puji bagi Alloh, Tidak ada Tuhan kecuali Alloh, Alloh Maha Besar
12. Masing-masing dibaca 100X (pagi dan petang ) Keutamaannya : Tasbih sama dengan ibadah haji 100X, Tahmid sama dengan menyerahkan 100 kuda untuk fisabiilillah atau berperang membela agama Allah 100X perang, Tahlil sama dengan memerdekakan 100 budak, Takbir tidak ada yang membandingi pahalanya selain orang yang membaca kalimat tersebut sama banyaknya atau lebih .



ﺍَﻟْﺤَﻤْﺪُ ِﻟﻠﻪِ ﺍﻟَّﺬِﻯ ﻋَﺎﻓَﺎﻧِﻰ ﻣِﻤَّﺎﺍﺑْﺘَﻼَﻙَ ﺑِﻪِ ﻭَﻓَﻀَّﻠَﻨِﻰ ﻋَﻠَﻰ ﻛَـﺜِﻴْﺮٍ ﻣِﻤَّﻦْ ﺧَﻠَﻖَ ﺗَﻔْﻀِﻴْﻼً
Artinya Segala puji bagi Alloh, Dzat yang mengampuni padaku dari apa-apa yang mencoba Engkau dengan apa-apa dan Engkau telah memberi keutamaan padaku yang banyak, termasuk orang yang Engkau ciptakan pada keutamaan.

13.Keutamaannya ketika melihat seseorang yang mendapat cobaan dari Allah/musibah dan dibaca hasilnya cobaan tersebut tidak akan menimpa pada orang yang membacanya.
Termasuk juga Membaca Al-qur’an setiap hari 3 Ayat / 1 Jus : “Barang siapa yg membaca satu huruf dari Al-Qur’an, akan mendapatkan satu kebaikan.Sedangkan satu kebaikan akan dilipatkan sepuluh semisalnya. Aku tdk berkata : Alif laam Miin itu satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf”. (HR.Tirmidzi 5/458). Diniati karena Alloh, mugo-mugo ALLOH Paring Aman,Selamat,Lancar dan Barokah

ﺍﻟﺤﻤﺪﺍﻟﻠﻪ ﺟﺰﺍﻙ ﺍﻟﻠﻪ ﺧﻴﺮ

Minggu, 22 Maret 2015

Apa kita Suka Mengeluh?

dilarang mengeluh
gambar: Walau cacat serba kekurangan tapi tetap tersenyum
Satu karakter yang sering tidak kita sadari dan membuat kita terpuruk pada hal yang sama adalah sifat pengeluh. Kalau bisa kita “taklukkan”, ada banyak hal positif yang bisa kita dapatkan.

Mengeluh untuk suatu hal karena memang hal itu tidak menyenangkan, sekali dua kali tidak menjadi masalah. Tapi bila itu kerap terjadi untuk hal-hal yang sangat kecil di mana hal kecil itu untuk orang lain justru tidak terlihat jelas, pastilah bukan kebiasaan lagi namanya. Tapi itu adalah karakter, menjadi bagian dari diri kita dan tanpa kita sadari melekat. Dan, jika dibiarkan terus-menerus, bukan saja mengganggu orang lain, tapi efek negatifnya juga akan membuat kita bisa tak berkembang, baik secara kehidupan sosial maupun kinerja dalam keseharian.

Bila kita merasa saat ini berada di posisi sebagai manusia pengeluh, beberapa hal ini harus kita lakukan agar kita bisa berubah:
1. Berdamai dengan Luka di Masa Lalu
anisa-liya Bisa jadi keluhan diakibatkan karena kita memiliki sebuah luka yang kita simpan. Hingga kemudian hari, di masa depan kita ingin “membagi” luka itu pada orang lain dengan cara yang tak kita sadari. Ketika orang lain menerimanya, kita merasa menemukan “keranjang sampah”. Ketika mereka menolaknya, maka kita kerap merasa terluka karena tidak menemukan tempat untuk meletakkan sampah keluhan kita.

Yang menjadi masalah besar adalah ketika masa lalu itu menempel terus dan tidak ingin kita lepaskan. Untuk itu—guna memutus rangkaian keluhan tak berkesudahan—perlu adanya kesadaran dari dalam diri sendiri untuk mengubahnya. Bisa dimulai dengan memaafkan hal di masa lalu, mencari hikmah positif di kejadian yang sudah lewat, intinya kita sendirilah yang bertanggung jawab untuk bisa mengubah perilaku sebagai pengeluh.
2. Merenung Agar Lebih Banyak Bersyukur
merenung

gambar: Merenung untuk menyadari betapa banyak nikmat yang telah Allah berikan
Ubah persepsi dan mulai tanamkan dalam pikiran bahwa mengeluh artinya tidak pernah puas dengan apa yang kita terima selama ini. Mengeluh juga berarti kita tidak pernah bahagia dengan apa yang kita dapatkan selama ini. Orang-orang yang mengeluh ketika hujan turun dengan derasnya sering lupa doa dan harapan mereka ketika musim kemarau panjang datang dan mereka berharap banyak akan hadirnya hujan. Ketika didera kesulitan ekonomi kita minta segalanya dimudahkan dan rezeki dilancarkan, tapi ketika rezeki itu datang kita merasa tidak pernah cukup karena standar hidup kita meningkat tak terkendali.

Karena itu ketika kita merasa tingkat keluhan kita sudah tinggi dan membuat orang-orang di sekeliling kita merasa jengah dengan apa yang kita lontarkan, mungkin ada baiknya kita mundur beberapa langkah untuk merenung. Perenungan yang paling efektif misalnya bisa dilakukan dengan mencoba keluar dari zona nyaman kita selama ini. Lalu, datangi orang-orang dengan kondisi lebih payah ketimbang kita. Apa yang kita keluhkan sebenarnya kerap kali menjadi bahan impian untuk orang lain. Kita yang letih datang dan pulang dari kantor kerap kali kondisi seperti itu justru dirindukan oleh orang-orang yang baru saja terkena PHK atau orang-orang yang keluar masuk kantor tapi tidak pernah mendapatkan pekerjaan.
3. Tulis dan Buang ke Keranjang Sampah
Sarana yang paling efektif lagi untuk menghilangkan keluhan kita adalah dengan menuliskan keluhan kita dalam sebuah kertas. Ketika kita tidak menemukan orang lain untuk mencurahkan keluhan kita, cobalah ambil selembar kertas. Lalu tulis apa yang ingin kita curahkan itu. Setelah itu baca kembali tulisan itu dan pikirkan benar-benar apakah memang hal itu melegakan atau tidak?
Setelah itu buang ke tempat sampah sebagai simbol bahwa apa yang baru kita keluarkan tadi adalah sebuah keluhan yang tidak berharga. Masih belum bisa menghilangkan kebiasan itu juga? Mungkin kita perlu mengambil sebuah buku. Lantas, kita mencatat apa yang ingin kita keluhkan dalam setiap lembarnya. Beberapa hari kemudian, cobalah baca isi buku ini. Dan lihat, apakah yang kita keluhkan adalah sesuatu yang berulang atau sesuatu yang baru tapi esensinya sama?
sampah numpuk
gambar: Keluhan itu seperti Tumpukan Sampah
4. Ubah dengan yang Positif
Ini cara efektif untuk melawan keluhan. Contohnya begini. Ketika kita mengeluh badan kita letih seusai bersepeda di pagi hari, kita bisa mengucapkan syukur karena bersepeda itu sudah memberi kontribusi positif pada kebersihan lingkungan. Plus kita menjadi sehat.

Bila kita merasa teman kita tidak baik, ubah dengan menjadikan diri kita baik sehingga kita akan merasakan sesuatu yang baru. Yaitu teman-teman yang baik pada kita. Atau, jika kita mengalami kondisi yang dirasa cukup berat, coba cari hikmah positif dari kejadian tersebut. Ambil contoh peristiwa nyata yang bisa didapatkan di berbagai media, khususnya internet. Misalnya, kisah orang yang terselamatkan dari bencana jatuhnya pesawat karena ketinggalan pesawat akibat kejadian sepele. Dari awalnya mau marah-marah dan mengeluh akibat macetnya jalan, ia malah jadi bersyukur karena tak ikut meninggal. Kisah semacam ini bisa jadi bahan perenungan, bahwa bisa jadi apa yang kita keluhkan sebenarnya punya makna yang lebih besar di baliknya.
Pilihan ada di tangan kita. Bagaimana dengan Anda?

Sabtu, 21 Maret 2015

Benarkah Dia Lebih Baik?


Dia Lebih Baik Dariku
Rumput Tetangga Selalu Tampak Lebih Hijau

Melihat kehidupan orang lain yang lebih sukses, sejahtera, dan bahagia tak jarang membuat kita iri. Padahal apa yang terlihat belum sepenuhnya benar. Kita tidak benar-benar melihat orang lain secara keseluruhan. Menurut British Psychology Society, melihat kehidupan seseorang dari luar, sama seperti melihat akuarium yang tampak indah dari luar kaca, tapi jika dilihat lebih dalam, maka akan tampak air yang keruh.  
Sikap Iri Datang dari Rasa Takut
Iri akan keadaan orang lain yang kamu anggap lebih baik akan membuang energi dan membuat kamu semakin pesimis. Daripada iri akan keberhasilan dan pencapaian orang lain, lebih baik mempelajari cara mereka untuk dapat sukses, karena tidak ada keberhasilan yang datang secara tiba-tiba. Rasa iri juga akan banyak menyita waktumu, yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk melakukan hal lain. Jika dilihat lebih jauh, rasa iri muncul karena kita merasa “insecure” atas apa yang orang lain dapatkan, serta merasa tidak cukup mampu untuk meraihnya. Adanya rasa iri justru akan menimubulkan persepsi diri bahwa kita “tidak cukup baik”. Padahal anggapan itu belum sepenuhnya benar.  
Bagaimana Mengatasi Rasa Iri

1. Berhenti Membandingkan
Terus-menerus membandingkan diri sendiri dengan orang lain akan membuat lelah, karena setiap orang unik dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Daripada sibuk mencari kekurangan diri, lebih baik fokus pada kelebihan yang dimiliki.  
2. Bersyukur
Setiap orang punya masalah, hanya saja respon tiap orang terhadap masalah berbeda-beda. Mensyukuri apa yang dimiliki akan membuat kamu merasa lebih baik dan dapat mengambil keputusan secara jernih.  
3. Cintai Diri
Daripada iri terhadap kehidupan orang lain yang tampak lebih baik, hargai dan cintai kehidupanmu sekarang. Karena belum tentu kehidupan orang lain lebih baik, karena kita tidak mengetahui secara detail apa yang dia alami.  
4. Tolok Ukur Kebahagiaan itu Berbeda-beda
Tiap orang memiliki definisi kebahagiaan yang berbeda-beda, bergantung pada pengalaman dan tujuan hidupnya. Memaksa diri untuk mengikuti standard orang lain hanya akan membuat kebahagiaan sulit didapat. Menjalani apa yang diyakini dan bersedia bertanggung jawab atas pilihan yang diambil akan membuat hidup terasa berbeda.  
5. Berkumpul dengan Orang-Orang Berpikiran Positif
Karakter orang di sekitarmu sedikit banyak berpengaruh pada karakter dan cara pandangmu. Berteman dengan orang-orang berpikiran positif akan menimbulkan energi positif dalam dirimu.  
Sumber: Prevention, Wikihow

Selasa, 17 Maret 2015

Dua Kantong Berbeda

masjid
Alkisah, ada seseorang yang sangat menikmati kebahagiaan & ketenangan di dalam hidupnya. Orang tersebut mempunyai dua kantong. Pada kantong yang satu terdapat lubang di bawahnya, tapi pada kantong yang lainnya tidak terdapat lubang.

Segala sesuatu yang menyakitkan yang pernah didengarnya seperti makian & sindiran, ditulisnya di sebuah kertas, digulung kecil, kemudian dimasukkannya ke dalam kantong yang berlubang. Tetapi semua yang indah, benar, dan bermanfaat, ditulisnya di sebuah kertas kemudian dimasukkannya ke dalam kantong yang tidak ada lubangnya.

Pada malam hari, ia mengeluarkan semua yang ada di dalam saku yang tidak berlubang, membacanya, dan menikmati hal-hal indah yang sudah diperolehnya sepanjang hari itu. Kemudian ia merogoh kantong yang ada lubangnya, tetapi ia tidak menemukan apa pun. Maka ia pun tertawa dan tetap bersukacita karena tidak ada sesuatu yang dapat merusak hati dan jiwanya.

Teman2.. Itulah yang seharusnya kita lakukan. Menyimpan semua yang baik di “kantong yang tidak berlubang”, sehingga tidak satupun yang baik yang hilang dari hidup kita. Sebaliknya, simpanlah semua yang buruk di “kantong yang berlubang”. Maka yang buruk itu akan jatuh dan tidak perlu kita ingat lagi.

Namun sayang sekali.. masih banyak orang yang melakukan dengan terbalik! Mereka menyimpan semua yang baik di “kantong yang berlubang”, dan apa yang tidak baik di “kantong yang tidak berlubang” (alias memelihara pikiran-pikiran jahat dan segala sesuatu yang menyakitkan hati). Maka, jiwanya menjadi tertekan & tidak ada gairah dalam menjalani hidup.
Oleh karena itu, agar bisa menikmati kehidupan yang bahagia dan tenang: jangan menyimpan apa yang tidak baik di dalam hidup kita (tahukah Anda: sakit hati, iri hati, dendam, dan kemarahan juga bisa menyebabkan penyakit serius bahkan kematian). Mari mencoba, menyimpan hanya yang baik dan bermanfaat.

Senin, 16 Maret 2015

Kisah Haru Segelas Susu

zuhal
bulan awal Januari 1987 silam, usai pesta perayaan malam pergantian th, ada seorang bocah lelaki miskin yang hidup dari menjual barang asongan dari pintu ke pintu, menemukan bahwa di kantongnya hanya tersisa beberapa Rupiah uangnya, dan kala itu dia sangat lapar sekali.

Bocah kecil tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari rumah berikutnya. Akan tetapi anak itu kehilangan keberanian saat seorang wanita muda cantik membuka pintu rumah. Bocah kecil itu tidak jadi meminta makanan, ia hanya berani meminta segelas air. Dan wanita muda tersebut melihat dengan menyelidik, dan berpikir bahwa anak lelaki tersebut pastilah lapar, oleh karena itu ia membawakan segelas besar susu segar dari dalam lemari es nya.

Bocah itu tertegun heran & meminumnya dengan lambat, seraya ditatap dengan penuh iba hati dari wanita tsb, dan tak lama kemudian bocah kecil itu bertanya dengan polos, ” Berapa saya harus membayar untuk segelas besar susu ini..???” dan Wanita itu menjawab dengan penuh senyuman, seraya berkata : “Kamu tidak perlu membayar apapun dik”. ” sejak kami kecil, Ibu kami mengajarkan untuk tidak menerima bayaran untuk segala bentuk kebaikan” kata wanita itu dengan suara yg bijak & terdengar ikhlas. Seraya menitikan airmata Bocah lelaki itu kemudian menghabiskan susunya dan berkata : ” Dari dalam hatiku yg paling dalam, aku berterima kasih banyak pada Anda…Semoga Allah SWT membalas ketulusan & kebaikan Anda…”

Singkat cerita, 22tahun kemudian, wanita muda tersebut, menjadi tua dan mengalami sakit yang sangat serius dan kritis. Para dokter diseluruh kota-kota besar di Jawa Barat sudah tidak ada yang sanggup menangani penyakitnya. Mereka akhirnya mengirimnya ke kota Jakarta, di mana terdapat dokter spesialis yang sangat ahli, disebuah Rumah Sakit terkenal mampu menangani penyakit langka tersebut untuk melakukan pemeriksaan lebih dalam. Pada saat Dokter Spesialis itu mendengar nama & kota asal si wanita tersebut dari susternya, terbersit seberkas pancaran aneh pada mata dokter tsb. Segera ia bangkit dan bergegas turun melalui hall rumah sakit paling Bonafid diJakarta itu, & segera menuju kamar sipasien wanita tersebut dirawat.

Dengan berpakaian jubah kedokteran, dokter muda tsb menemui si wanita itu. Ia langsung mengenali wanita itu pada sekali pandangan pertama. Ia kemudian kembali ke ruang konsultasi team dokter dan memutuskan untuk melakukan upaya yang paling terbaik untuk menyelamatkan nyawa wanita itu. dan sejak hari itu, Ia selalu memberikan perhatian yg sangat spesial & khusus pada kasus penyakit pasien wanita tua yg satu itu.

Setelah melalui perjuangan yang sangat panjang, akhirnya diperoleh kemenangan.. . . Wanita itu sembuh..!! dan Dr. Spesialis ini meminta bagian keuangan rumah sakit untuk mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya untuk persetujuan dan rekapitulasi pengobatannya. ..tak lama berselang kemudian Dokter melihat tagihannya, dan menuliskan sesuatu pada pojok atas lembar tagihan, dan kemudian mengirimkannya ke kamar pasien melalui salah satu susternya. Sejenak Wanita tua itu takut untuk membuka tagihan tersebut, dibenaknya ia sangat yakin bahwa ia tak akan mampu membayar tagihan tersebut walaupun harus dicicil seumur hidupnya…

Akhirnya dengan membaca Basmallah Ia memberanikan diri untuk membuka & membaca tagihan tersebut, dan ia sangat terkejut ternyata sudah dibayar lunas semua tagihannya selama 2 bulan perawatan dirinya, & ada sesuatu yang menarik perhatiannya pada pojok atas lembar tagihan tersebut. Ia membaca tulisan tebal yg dicap stempel Rumah Sakit & berbunyi…. “Telah dibayar lunas 22th yg lalu dengan segelas besar susu…” tertanda…(Nama Dokter Spesialis yg merawatnya) kontan saja bersimbah Air mata kebahagiaan membanjiri matanya. Ia berdoa lirih seraya mengucapkan : ” Subhannallah…., terima kasih ya Allah, bahwa cinta & kasih Sayang MU telah menyirami seluruh bumi ini melalui hati dan tangan-tangan hambamMu yang kau kehendaki….”

Demikian lah, sepenggal kisah nyata ini, Hikmah dibalik peristiwa ini adalah: “Setiap Kebaikan yang dilakukan dengan penuh ke Ikhlasan hati seorang hamba kepada hamba Allah lainnya, kelak pasti akan dibayar Allah dengan jalan yg tiada disangka-sangka…” Begitupun sebaliknya… Karna Dia lah yg Maha menggenggam dibalik setiap kejadian didunia ini….

Minggu, 15 Maret 2015

Dendam Yang Berubah


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

SEORANG lelaki yang tinggal menumpang di rumah ibunya Beberapa saat tinggal bersamanya, akhirnya ia demikian kesal dengan ibunya yang menurutnya sangat brengsek, cerewet, bawel,dan angkuh sekali.Suka memerintah pada hal-hal yang tidatidak di sukainya Setelah beberapa tahun, baginya cukup sudah penderitaan itu. Ia memutuskan untuk mengakhiri dengan berencana membunuh ibunya. Setelah memutar otak, ia pergi mendatangi dukun yang paling sakti di daerahnya.

Usai bercerita dengan penuh kegeraman, sang dukun tersenyum dan mengangguk-angguk. Diberinya sebotol cairan yang menurut petunjuk dukun adalah racun yang sangat mematikan. Syaratnya harus diberikan sedikit demi sedikit selama 2 bulan, dan dalam memberikan ia diharuskan bersikap manis, berkata lebih sopan, serta selalu tersenyum. Hal ini untuk membuat si ibu supaya tidak mencurigainya. Dengan penuh kesabaran, hari demi hari ia mulai meracuni ibunya tentunya dengan sikap manis, tutur kata yang lebih santun serta senyum yang tidak lepas dari mulutnya. Perlahan namun pasti ia mulai melihat perubahan pada ibunya

Ada satu hal yang membuatnya bingung, setelah satu bulan ia meracuni ibunya, kelakuan ibunya ini justru berubah menjadi demikian baik padanya. Sikapnya berubah 180 derajat dari sebelumnya, ia mulai menyapa lebih dahulu setiap kali ketemu. Pikirnya, ini pasti akibat awal dari racun itu, yakni adanya perubahan sikap sebelum akhirnya meninggal. Mendekati hari ke-40 sikap ibu semakin baik dan hubungan dengannya semakin manis, ia mulai membuatkan minum teh di pagi hari, menyediakan pisang goreng dan seterusnya. Sebuah perilaku ibu yang dulu tidak pernah ia bayangkan akan terjadi.

Puncaknya pada hari ke-50 ibunya memasakkan makanan yang paling ia sukai, bahkan di pagi harinya ia terkejut saat mendapati bajunya sudah dicuci bahkan diseterika oleh si ibu Tak ayal lagi, hati kecilnya mulai memberontak. Muncullah rasa bersalah yang makin hari makin menguat. Pada hari ke-55, sudah tak terbendunglagi penyesalan itu, karena melihat perubahan si Ibu yang menjadi sedemikian sayang padanya. Akhirnya pergilah ia ke dukun itu lagi, dengan terbata-bata penuh penyesalan dan rasa berdosa ia memohon-mohon untuk dibuatkan penangkal racun yang pernah diberikan sang dukun padanya.

Dengan senyum bijaksana bak malaikat, dukun itu berkata “Cairan yang kuberikan padamu dulu itu bukanlah racun, namun air biasa yang kuberi warna saja. Sikap ibumu yang berubah menjadi sayang padamu, disebabkan karena SIKAP DIRIMU YANG TERLEBIH DAHUU BERUBAH MENJADI LEBIH RAMAH, LEBIH SANTUN DAN SELALU SENYUM PADANYA.Serta kamu bantu pekerjaannya, sehingga dia merasa terbantu dengan keberadaan mu

Ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah di atas. Pertama, sikap buruk/penolakan orang lain, hanyalah sebagai akibat/reaksi atas sikap buruk kita padanya. Kedua, kalau mau mengubah orang lain, kitalah yang berubah dahulu. Selamat mencoba!

Senin, 09 Maret 2015

Apakah Kita Begini?

Alkisah, ada seorang Ibu yang tidak sengaja menabrak seorang pejalan kaki ketika sedang berjalan di trotoar. "Oh, maaf," kata sang Ibu.
Jawab si pejalan kaki itu, "Maafkan saya juga. Saya tak memperhatikan Anda." Mereka berdua bersikap sangat sopan. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanannya masing-masing.


Namun ketika tiba di rumah, berlangsung kisah yang berbeda. Betapa berbedanya sang Ibu dalam memperlakukan seorang yang sangat dikasihinya. Menjelang malam hari, saat sang Ibu sibuk memasak makan malam, anak perempuan satu-satunya berdiri diam di sampingnya. Ketika berbalik badan, sang Ibu nyaris saja menabrak anaknya. Karena terkejut, sang Ibu menjadi jengkel. "Menyingkir sana. Jangan berdiri di situ!" hardik sang Ibu dengan raut muka yang berkerut. Sang anak pun meninggalkan dapur, dengan hati yang sedikit terluka. Sang Ibu sungguh tak menyadari betapa kasar caranya berbicara tadi.

Tanpa kita sadari, cerita di atas juga sering kita alami sendiri. Betapa kita bisa bersikap sangat sopan dan santun dalam berbicara kepada orang lain, yang baru kita kenal sekalipun, namun semua itu langsung berubah begitu kita menghadapi anggota keluarga kita, atau kerabat, atau sahabat, atau orang-orang dekat kita. Mari, jadikan kisah ini sebagai "batu pijakan pertama" kita untuk mengubah kebiasaan tidak baik itu, agar ke depannya kita bisa lebih menjaga sikap dan perkataan kita kepada siapa pun yang kita temui.

Kamis, 05 Maret 2015

Hidup Adalah Cerminan Diri Kita


Ada seorang anak dan ayahnya sedang berjalan- jalan di lereng bukit.
Tiba-tiba, anak itu terjatuh, kakinya yang terluka membuatnya berteriak kesakitan, “AAAhhhhhhhh!!!” Betapa terkejutnya anak itu, begitu mendengar suara balasan entah dari arah mana, ”AAAhhhhhhhh!!!”

Merasa penasaran, anak itu berteriak jengkel, “Siapa kamu?” Jawaban yang diterimanya tetap sama, ”Siapa kamu?” Semakin marah, anak itu pun berteriak lagi, ”Dasar pengecut!” Ia lagi-lagi mendapat jawaban, ”Dasar pengecut!” Anak itu berpaling pada ayahnya dan bertanya, ”Apa yang terjadi sih, Yah?”

Si ayah tersenyum dan berkata, ”Anakku, coba perhatikan yah.”
Lalu, berteriaklah si ayah ke arah lereng bukit, ”Aku mengagumimu!”
Suara lain menjawab, ”Aku mengagumimu!”
Sekali lagi, si ayah berteriak, ”Kamu sang juara!”
Suara itu kembali menjawab, ”Kamu sang juara!”
Anak itu terkejut, tapi masih belum paham.

Lalu, ayahnya menjelaskan, ”Ini disebut gema, tapi seperti itulah kehidupan kita. Hidup ini akan membalas pada kita apa pun yang kita katakan atau lakukan. Hidup kita adalah cerminan dari perbuatan kita. Jika kamu ingin menerima banyak kasih sayang di dunia, ciptakan lebih banyak kasih sayang dalam hatimu. Jika kamu ingin semakin pintar, tambah kemampuanmu. Hal ini berlaku dalam segala hal. Hidup akan membalas apa pun yang sudah kamu berikan.”

Seperti halnya gema di lereng bukit dalam kisah di atas, kehidupan kita ini bukanlah sebuah kebetulan. Hidup ini adalah cerminan diri kita.
Apa yang kita berikan saat ini, itulah yang akan kita terima nanti.
Apa yang kita tanam saat ini, itulah yang akan kita petik nanti. Kita berbuat baik pada saudara kita, saudara kita akan berbuat baik/menghargai kita. Begitu juga sebaliknya.

Minggu, 01 Maret 2015

Kisah Pemuda Yang Ikhlas


Yang menyaksikan peristiwa ini bercerita:

Suatu hari aku di Mekah di salah satu supermarket. Setelah aku selesai memilih barang-barang yang hendak aku beli dan aku masukan ke kereta barang maka akupun menuju tempat salah satu kashir untuk ngantri membayar. Didepanku ada seorang wanita bersama dua putri kecilnya, dan sebelum mereka ada seorang pemuda yang persis di hadapanku di posisi antrian.

Aku perhatikan ternyata setelah menghitung lalu sang kashir mengatakan, "Totalnya 145 real". Lalu sang wanitapun memasukan tangannya ke tas kecilnya untuk mencari-cari uang, ternyata ia hanya mendapatkan pecahan 50 realan dan beberapa lembar pecahan sepuluhan realan. Aku juga melihat kedua putrinya juga sibuk mengumpulkan uang pecahan realan miliki mereka berdua hingga akhirnya terkumpulah uang mereka 125 real.
Maka nampaklah ibu mereka berdua kebingungan dan mulailah sang ibu mengembalikan sebagian barang-barang yang telah dibelinya. Salah seorang putrinya berkata, "Bu.., yang ini kami tidak jadi beli, tidak penting bu..".

Tiba-tiba aku melihat sang pemuda yang berdiri persis di belakang mereka melemparkan selembar uang 50 realan di samping sang wanita dengan sembunyi-sembunyi dan cepat. Lalu sang pemuda tersebut segera berbicara kepada sang wanita dengan penuh kesopanan dan ketenangan seraya berkata, "Ukhti, perhatikan, mungkin uang 50 realan ini jatuh dari tas kecilmu…".

Lalu sang pemuda menunduk dan mengambil uang 50 realan teresbut dari lantai lalu ia berikan kepada sang wanita. Sang wanitapun berterima kasih kepadanya lalu melanjutkan pembayaran barang ke kashir, kemudian wanita itupun pergi.

Setelah sang pemuda menyelesaikan pembayaran barang belanjaannya di kashir iapun segera pergi tanpa melirik ke belakang seakan-akan ia kabur melarikan diri. Akupun segera menyusulnya lalu aku berkata, "Akhi… sebentar dulu…!, aku ingin berbicara denganmu sebentar". Lalu aku bertanya kepadanya, "Demi Allah, bagaimana kau punya ide yang cepat dan cemerlang seperti tadi?"

Tentunya pada mulanya sang pemuda berusaha mengingkari apa yang telah ia lakukan, akan tetapi setelah aku kabarkan kepadanya bahwa aku telah menyaksikan semuanya, dan aku menenangkannya dan menjelaskan bahwasanya aku bukanlah penduduk Mekah, aku hanya menunaikan ibadah umroh dan aku akan segera kembali ke negeriku, dan kemungkinan besar aku tidak akan melihatnya lagi.

Lalu iapun berkata, "Saudaraku, demi Allah aku tadi bingung juga, apa yang harus aku lakukan, selama dua menit tatkala sang wanita dan kedua putrinya berusaha mengumpulkan uang mereka untuk membayar kashir…, akan tetapi Robmu Allah subhaanahu wa ta'aala mengilhamkan kepadaku apa yang telah aku lakukan tadi, agar aku tidak menjadikan sang wanita malu dihadapan kedua putrinya… Demi Allah, saya mohon agar engkau tidak bertanya- tanya lagi dan biarkan aku pergi". Aku berkata kepadanya, "Wahai saudaraku, aku berharap engkau termasuk dari orang-orang yang Allah berfirman tentang mereka :
ﻓَﺄَﻣَّﺎ ﻣَﻦْ ﺃَﻋْﻄَﻰ ﻭَﺍﺗَّﻘَﻰ ‏(٥ ‏) ﻭَﺻَﺪَّﻕَ ﺑِﺎﻟْﺤُﺴْﻨَﻰ ‏( ٦ ‏) ﻓَﺴَﻨُﻴَﺴِّﺮُﻩُ ﻟِﻠْﻴُﺴْﺮَﻯ ‏( ٧ )
"Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah" (QS Al-Lail 5-7)

Lalu sang pemuda itupun menangis, lalu meminta izin kepadaku dan berjalan menuju mobilnya sambil menutup wajahnya.


Semoga kita bisa meneladaninya. Amin.

Senin, 09 Februari 2015

Nerimo ing Pandum



Oleh Andrie Wongso

Masing-masing orang terlahir dengan takdirnya masing-masing. Ada yang terlahir dalam kondisi normal, ada yang kurang (disable), ada yang kaya, ada yang miskin, dan sebagainya. Kita sendiri tak bisa memilih akan dilahirkan di mana dan bagaimana wujudnya. Karena itu, ada anggapan bahwa nasib itu tak bisa diubah. Banyak yang berpendapat, jika terlahir sebagai anak pengemis, mati pun akan jadi pengemis. Ada yang mengatakan si dia kaya karena memang dia terlahir dari keluarga berada.

Padahal sejatinya, sejarah telah membuktikan. Ada banyak kisah nyata di dunia, orang-orang hebat yang mampu mengubah nasibnya. Mereka berjuang dari nol—bahkan minus—hingga sukses. Bahkan, ada yang kemudian diuji dengan ujian yang membuatnya jatuh lagi ke titik yang negatif lagi. Namun, dengan keyakinan kuat, mereka berjuang, bergerak, kembali bangkit, dan ujungnya, mampu menjadi “pahlawan” tipikal from zero to hero di bidangnya masing-masing.

Saya sendiri berasal dari keluarga yang kurang mampu, miskin, dengan berjuta alasan yang—jika saya tetap miskin hari ini—bisa dijadikan pembenaran bahwa nasib saya memang hanya akan begitu-begitu saja. Tapi, suatu kali orangtua saya mengatakan: “Sepanjang gunung masih menghijau, jangan takut kehabisan kayu bakar.” Inilah salah satu wejangan yang membuat saya yakin, ada banyak “kayu bakar” yang membuat saya bisa terus hidup dan berkembang, hingga akhirnya sukses seperti saat ini.

Inilah gambaran nyata yang saya alami dan inilah yang menurut saya adalah bagian terbaik dari diri—the best of me. Yakni, saya meyakini dan menyadari, bahwa sukses adalah hak semua orang. Maka, ketika saya mendengar nasihat Jawa yang sering diucapkan: nrimo ing pandum, yang berarti menerima apa yang sudah jadi bagian kita, nasihat tersebut saya artikan dengan sudut pandang yang berbeda. Yakni, kita menerima, kita pasrah, kita berserah, kita mau menerima apa adanya, namun dengan kondisi pasrah yang bukan pasif dan menunggu keadaan membaik, tanpa berbuat apa-apa. Pepatah nrimo ing pandum ini saya maknai sebagai sikap untuk selalu proaktif guna menciptakan peluang dan mencari cara untuk memperbaiki berbagai kondisi yang kita anggap kurang.

Hal tersebut boleh jadi sejalan dengan sebuah ungkapan bahasa latin: Homo proponit, sed Deus disponit yang artinya lebih kurang: manusia merencanakan tetapi Tuhan yang menentukan. Senada dengan nrimo ing pandum, saya pun mengartikan manusia berencana adalah “kewajiban melakukan tindakan” sebelum Tuhan berkehendak. Sehingga, saat hasil yang didapat belum sesuai dengan yang diinginkan, kita pasrah dan berserah, namun tetap dengan sikap proaktif untuk mengevaluasi semua kondisi dan berusaha untuk memperbaiki.
Mari, menerima apa yang jadi bagian kita, setelah sebelumnya berjuang mati-matian. Saya yakin, dengan sikap tersebut, “success is my right” akan benar-benar terwujud, jadi milik kita.
Salam sukses luar biasa!

Sabtu, 07 Februari 2015

Tak ada jalan pintas



Nasehatin diri sendiri:

Keberhasilan tak diperoleh begitu saja. Ia adalah buah dari pohon kerja keras yang berjuang untuk tumbuh. Jangan terlalu berharap pada kemujuran.

Apakah kita tahu apa itu kemujuran? Apakah kita dapat mendatangkan kemujuran sesuai keinginan kalian? Padahal kita tahu, kita tak selalu mampu menjelaskan dari mana datangnya.

Sadarilah bahwa segala sesuatu berjalan secara alami dan semestinya. Layaknya proses mendaki tangga, kita melangkahkan kaki  melalui anak tangga satu per satu.

Tak perlu repot-repot membuang waktu untuk mencari jalan pintas, karena memang tak ada jalan pintas. Sesungguhnya kemudahan jalan pintas itu takkan pernah memberikan kepuasan sejati.

Untuk apa berhasil jika kita tak merasa puas?

Hargailah setiap langkah kecil yang membawa anda maju. Janganlah melangkah dengan ketergesaan, karena ketergesaan adalah beban yang memberati langkah saja.

Amatilah jalan lurus. Tak peduli bergelombang maupun berbatu, selama kita yakin berada di jalan yang tepat, maka melangkahlah terus.

Ketahuilah, jalan yang tepat itu adalah jalan yang menuntun kita menjadi diri kita sendiri.

Jumat, 06 Februari 2015

Diatas Langit Ada Langit


Pada suatu hari, seorang pengusaha sedang memotong rambutnya pada tukang cukur yang berdomisili tak jauh dari kantornya, mereka melihat ada seorang anak berusia 10 tahunan berlari-lari dan melompat-lompat di depan mereka.

Tukang cukur berkata, ”Itu Benu, dia anak paling bodoh yang pernah saya kenal”

”Masak, apa iya?” jawab pengusaha

Lalu tukang cukur memanggil si Benu, ia lalu merogoh kantongnya dan mengeluarkan lembaran uang Rp.2.000 dan koin Rp.1.000, lalu menyuruh Benu memilih, ”Benu, kamu boleh pilih dan ambil salah satu uang ini, terserah kamu mau pilih yang mana, ayo ambil!”

Benu melihat ke tangan Tukang cukur dimana ada uang Rp.2.000 dan Rp.1.000, lalu dengan cepat tangannya bergerak mengambil uang Rp.1.000.

Tukang cukur dengan perasaan bangga lalu melirik dan berbalik kepada sang pengusaha dan berkata, ”Benar kan yang saya katakan tadi, Benu itu memang anak terbodoh yang pernah saya temui. Sudah tak terhitung berapa kali saya ngetes dia seperti itu tadi dan dia selalu mengambil uang logam yang nilainya lebih kecil.”

Setelah sang pengusaha selesai memotong rambutnya, di tengah perjalanan pulang dia bertemu dengan Benu. Karena merasa penasaran dengan apa yang dia lihat sebelumnya, dia pun memanggil Benu dan bertanya, ”Benu, tadi saya melihat sewaktu tukang cukur menawarkan uang lembaran Rp.2.000 dan Rp.1.000, saya lihat kok yang kamu ambil uang yang Rp.1.000, kenapa tak ambil yang Rp.2.000, nilainya kan lebih besar 2 kali lipat dari yang Rp.1.000?”

Benu pun tertawa kecil berkata, ”Saya tidak akan dapat lagi Rp.1.000 setiap hari, karena tukang cukur itu selalu penasaran kenapa saya tidak ambil yang seribu. Kalau saya ambil yang Rp.2.000, berarti permainannya selesai dan kapan lagi saya dapat uang jajan gratis setiap hari.”

Banyak orang yang merasa lebih pintar dibandingkan orang lain, sehingga mereka sering menganggap remeh orang lain. Ukuran kepintaran seseorang hanya TUHAN yang mengetahuinya. Alangkah bijaksananya jika kita tidak menganggap diri sendiri lebih pintar dari orang lain. Di atas langit masih ada langit yang lain.

Koin Penyok


Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan.

Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.

Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya. “Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank.

“Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya kekolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar.

Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu.

Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.

Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.

Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?”

Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.

Bila kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?

Kamis, 15 Januari 2015

Jadi Raja Satu Hari


Pernah hidup seorang Raja tua yang sangat bijaksana, memerintah sebuah negeri yang aman tenteram dan makmur sentosa. Suatu malam, Raja tua dan pembantunya berkeliling kota dan menemukan sebuah gubug yang kumuh.

Raja tua mengendap mendekati gubug itu dan mencuri dengar. Rupanya gubug itu dihuni oleh seorang janda miskin beranak satu. Sang anak menangis kelaparan,sementara sang Ibu sibuk menghibur si anak. “Sabarlah nak. Ibu akan menghadap Raja besok. Ibu dengar dia Raja yang murah hati. Dia pasti akan memberikan makanan bagi kita”.

Raja tua terenyuh hatinya dan memanggil sang pembantu, “Jika mereka sudah tidur, ambil anaknya dan letakkan di tempat tidurku. Besok, aku ingin dia menjadi Raja selama satu hari. Sehingga saat Ibunya datang menghadap, dia bisa memberikan sebanyak apapun harta kekayaan istanaku kepada ibunya.” Si anak bangun tidur di kamar Raja yang mewah. Para pelayan istana memberikan penghormatan kepada si anak, selayaknya seorang Raja. Mereka melayani dia dari keperluan mandi hingga sarapan. Dari pagi hingga siang, si anak bermain-main dengan para Pangeran dan Putri istana. Semuanya menghormati dia selayaknya seorang Raja. Si anak mulai berpikir bahwa dia akan seterusnya tinggal di istana sebagai seorang Raja. Dia mulai menikmati segala kemewahan disekelilingnya.

Tiba saatnya Raja duduk di ruang sidang, memutuskan masalah rakyat. Disamping singgasana Raja, duduk Penasihat Agung Kerajaan, yang tiada lain adalah Raja tua yang asli. Satu demi satu Raja memutuskan urusan rakyat dengan bijaksana, atas saran bijak Penasihat Agung. Hingga tiba giliran sang Ibu yang miskin untuk menghadap. Malu, sang Ibu hanya tertunduk, tidak berani memandang Raja. Tapi Raja dapat mengenali Ibunya. Usai mendengarkan penuturan ibunya, Raja memerintahkan untuk memberikan dua karung gandum dan sepuluh keping uang emas kepada ibunya. Penasihat Agung dan pembesar lainnya terkejut.

“Yang Mulia,” tegur Penasihat Agung. “Kekayaan istana ini sungguh tidak terbatas. Kita bisa memberikan lebih banyak lagi.” “Yang Mulia,” Menteri Pangan bangkit dari kursinya. “Menurut perhitungan hamba, jika Tuanku menyerahkan 1000 lumbung padi sekalipun, negara masih memiliki kelimpahan yang tidak terbatas. Saran hamba, berikanlah lebih dari itu.”

“Tuanku,” Bendahara Negeri ikut menimpali. “Menurut hitungan hamba, jika Tuanku mengeluarkan seluruh persediaan emas negara untuk Ibu ini, negara masih tetap kaya karena bulan depan kita akan memperoleh pendapatan emas dua kali lipat dari hari ini. Saran hamba, berikanlah lebih dari itu.”

Demikianlah, Penasihat Agung dan satu demi satu pembesar kerajaan mencoba membujuk Raja untuk memberikan lebih kepada Ibunya. Tetapi Raja tidak perduli. Dia bahkan marah dengan usulan-usulan yang dianggap mempertanyakan otoritasnya itu. Sang Ibu yang miskin akhirnya pulang dengan dua karung gandum dan sepuluh keping uang emas.

Ketika matahari tenggelam, si anak tertidur kelelahan. Raja tua berkata kepada pembantunya, “Aku telah menggenapi janjiku untuknya. Kembalikan lagi dia ke rumah Ibunya.” Sang anak terbangun kembali di gubugnya. Dia pikir dia baru bermimpi. Namun dia terkejut mendengar cerita Ibunya. Si anak segera menyadari kesalahannya, dan berlari ke istana menemui Raja tua.

“Yang Mulia, ampuni hamba. Hamba kini menyadari maksud Baginda. Hamba mohon, kembalikan hamba menjadi Raja, agar hamba bisa memberikan lebih kepada Ibu hamba.”

“Tidak bisa,” kata Raja. “Satu menit saja, Yang Mulia. Sekedar memerintahkan untuk memberikan lebih kepada ibunda hamba.” “Anakku,” kata Raja. “Waktumu telah berlalu. Apa yang telah engkau berikan untuk ibumu, itulah yang akan engkau nikmati.”


Terimakasih semoga bermanfaat.

Selasa, 06 Januari 2015

Mahir Karena Terbiasa


Tiongkok pada zaman dahulu kala, hidup seorang panglima perang yang terkenal karena memiliki keahlian memanah yang tiada tandingannya. Suatu hari, sang panglima ingin memperlihatkan keahliannya memanah kepada rakyat. Lalu diperintahkan kepada prajurit bawahannya agar menyiapkan papan sasaran serta 100 buah anak panah.
Setelah semuanya siap, kemudian Sang Panglima memasuki lapangan dengan penuh percaya diri, lengkap dengan perangkat memanah di tangannya.

Panglima mulai menarik busur dan melepas satu persatu anak panah itu ke arah sasaran. Rakyat bersorak sorai menyaksikan kehebatan anak panah yang melesat! Sungguh luar biasa! Seratus kali anak panah dilepas, 100 anak panah tepat mengenai sasaran.

Dengan wajah berseri-seri penuh kebanggaan, panglima berucap, ”Rakyatku, lihatlah panglimamu! Saat ini, keahlian memanahku tidak ada tandingannya. Bagaimana pendapat kalian?”

Di antara kata-kata pujian yang diucapkan oleh banyak orang, tiba-tiba seorang tua penjual minyak menyelutuk, ”Panglima memang hebat ! Tetapi, itu hanya keahlian yang didapat dari kebiasaan yang terlatih.”

Sontak panglima dan seluruh yang hadir memandang dengan tercengang dan bertanya-tanya, apa maksud perkataan orang tua penjual minyak itu. Tukang minyak menjawab, ”Tunggu sebentar!” Sambil beranjak dari tempatnya, dia mengambil sebuah uang koin Tiongkok kuno yang berlubang di tengahnya. Koin itu diletakkan di atas mulut botol guci minyak yang kosong. Dengan penuh keyakinan, si penjual minyak mengambil gayung penuh berisi minyak, dan kemudian menuangkan dari atas melalui lubang kecil di tengah koin tadi sampai botol guci terisi penuh. Hebatnya, tidak ada setetes pun minyak yang mengenai permukaan koin tersebut!

Panglima dan rakyat tercengang. Merela bersorak sorai menyaksikan demonstrasi keahlian si penjual minyak. Dengan penuh kerendahan hati, tukang minyak membungkukkan badan menghormat di hadapan panglima sambil mengucapkan kalimat bijaknya, ”Itu hanya keahlian yang didapat dari kebiasaan yang terlatih! Kebiasaan yang diulang terus menerus akan melahirkan keahlian.”

Dari cerita tadi, kita bisa mengambil satu hikmah yaitu: betapa luar biasanya kekuatan kebiasaan. Habit is power!

Hasil dari kebiasaan yang terlatih dapat membuat sesuatu yang sulit menjadi mudah dan apa yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Demikian pula, untuk memperoleh kesuksesan dalam kehidupan, kita membutuhkan karakter sukses. Dan karakter sukses hanya bisa dibentuk melalui kebiasaan-kebiasaan seperti berpikir positif, antusias, optimis, disiplin, integritas, tanggung jawab, & lain sebagainya.

Mari kita siap melatih, memelihara, dan mengembangkan kebiasaan berpikir sukses dan bermental sukses secara berkesinambungan. Sehingga, karakter sukses yang telah terbentuk akan membawa kita pada puncak kesuksesan di setiap perjuangan kehidupan kita.

Sekali lagi: Kebiasaan yang diulang terus menerus, akan melahirkan keahlian! Kita bisa lancar baca Al Qur’an, atau hafal Al Qur'an juga karena terbiasa dan terus menerus.

Temukan kami di Facebook