Minggu, 22 Maret 2015

Apa kita Suka Mengeluh?

dilarang mengeluh
gambar: Walau cacat serba kekurangan tapi tetap tersenyum
Satu karakter yang sering tidak kita sadari dan membuat kita terpuruk pada hal yang sama adalah sifat pengeluh. Kalau bisa kita “taklukkan”, ada banyak hal positif yang bisa kita dapatkan.

Mengeluh untuk suatu hal karena memang hal itu tidak menyenangkan, sekali dua kali tidak menjadi masalah. Tapi bila itu kerap terjadi untuk hal-hal yang sangat kecil di mana hal kecil itu untuk orang lain justru tidak terlihat jelas, pastilah bukan kebiasaan lagi namanya. Tapi itu adalah karakter, menjadi bagian dari diri kita dan tanpa kita sadari melekat. Dan, jika dibiarkan terus-menerus, bukan saja mengganggu orang lain, tapi efek negatifnya juga akan membuat kita bisa tak berkembang, baik secara kehidupan sosial maupun kinerja dalam keseharian.

Bila kita merasa saat ini berada di posisi sebagai manusia pengeluh, beberapa hal ini harus kita lakukan agar kita bisa berubah:
1. Berdamai dengan Luka di Masa Lalu
anisa-liya Bisa jadi keluhan diakibatkan karena kita memiliki sebuah luka yang kita simpan. Hingga kemudian hari, di masa depan kita ingin “membagi” luka itu pada orang lain dengan cara yang tak kita sadari. Ketika orang lain menerimanya, kita merasa menemukan “keranjang sampah”. Ketika mereka menolaknya, maka kita kerap merasa terluka karena tidak menemukan tempat untuk meletakkan sampah keluhan kita.

Yang menjadi masalah besar adalah ketika masa lalu itu menempel terus dan tidak ingin kita lepaskan. Untuk itu—guna memutus rangkaian keluhan tak berkesudahan—perlu adanya kesadaran dari dalam diri sendiri untuk mengubahnya. Bisa dimulai dengan memaafkan hal di masa lalu, mencari hikmah positif di kejadian yang sudah lewat, intinya kita sendirilah yang bertanggung jawab untuk bisa mengubah perilaku sebagai pengeluh.
2. Merenung Agar Lebih Banyak Bersyukur
merenung

gambar: Merenung untuk menyadari betapa banyak nikmat yang telah Allah berikan
Ubah persepsi dan mulai tanamkan dalam pikiran bahwa mengeluh artinya tidak pernah puas dengan apa yang kita terima selama ini. Mengeluh juga berarti kita tidak pernah bahagia dengan apa yang kita dapatkan selama ini. Orang-orang yang mengeluh ketika hujan turun dengan derasnya sering lupa doa dan harapan mereka ketika musim kemarau panjang datang dan mereka berharap banyak akan hadirnya hujan. Ketika didera kesulitan ekonomi kita minta segalanya dimudahkan dan rezeki dilancarkan, tapi ketika rezeki itu datang kita merasa tidak pernah cukup karena standar hidup kita meningkat tak terkendali.

Karena itu ketika kita merasa tingkat keluhan kita sudah tinggi dan membuat orang-orang di sekeliling kita merasa jengah dengan apa yang kita lontarkan, mungkin ada baiknya kita mundur beberapa langkah untuk merenung. Perenungan yang paling efektif misalnya bisa dilakukan dengan mencoba keluar dari zona nyaman kita selama ini. Lalu, datangi orang-orang dengan kondisi lebih payah ketimbang kita. Apa yang kita keluhkan sebenarnya kerap kali menjadi bahan impian untuk orang lain. Kita yang letih datang dan pulang dari kantor kerap kali kondisi seperti itu justru dirindukan oleh orang-orang yang baru saja terkena PHK atau orang-orang yang keluar masuk kantor tapi tidak pernah mendapatkan pekerjaan.
3. Tulis dan Buang ke Keranjang Sampah
Sarana yang paling efektif lagi untuk menghilangkan keluhan kita adalah dengan menuliskan keluhan kita dalam sebuah kertas. Ketika kita tidak menemukan orang lain untuk mencurahkan keluhan kita, cobalah ambil selembar kertas. Lalu tulis apa yang ingin kita curahkan itu. Setelah itu baca kembali tulisan itu dan pikirkan benar-benar apakah memang hal itu melegakan atau tidak?
Setelah itu buang ke tempat sampah sebagai simbol bahwa apa yang baru kita keluarkan tadi adalah sebuah keluhan yang tidak berharga. Masih belum bisa menghilangkan kebiasan itu juga? Mungkin kita perlu mengambil sebuah buku. Lantas, kita mencatat apa yang ingin kita keluhkan dalam setiap lembarnya. Beberapa hari kemudian, cobalah baca isi buku ini. Dan lihat, apakah yang kita keluhkan adalah sesuatu yang berulang atau sesuatu yang baru tapi esensinya sama?
sampah numpuk
gambar: Keluhan itu seperti Tumpukan Sampah
4. Ubah dengan yang Positif
Ini cara efektif untuk melawan keluhan. Contohnya begini. Ketika kita mengeluh badan kita letih seusai bersepeda di pagi hari, kita bisa mengucapkan syukur karena bersepeda itu sudah memberi kontribusi positif pada kebersihan lingkungan. Plus kita menjadi sehat.

Bila kita merasa teman kita tidak baik, ubah dengan menjadikan diri kita baik sehingga kita akan merasakan sesuatu yang baru. Yaitu teman-teman yang baik pada kita. Atau, jika kita mengalami kondisi yang dirasa cukup berat, coba cari hikmah positif dari kejadian tersebut. Ambil contoh peristiwa nyata yang bisa didapatkan di berbagai media, khususnya internet. Misalnya, kisah orang yang terselamatkan dari bencana jatuhnya pesawat karena ketinggalan pesawat akibat kejadian sepele. Dari awalnya mau marah-marah dan mengeluh akibat macetnya jalan, ia malah jadi bersyukur karena tak ikut meninggal. Kisah semacam ini bisa jadi bahan perenungan, bahwa bisa jadi apa yang kita keluhkan sebenarnya punya makna yang lebih besar di baliknya.
Pilihan ada di tangan kita. Bagaimana dengan Anda?

Sabtu, 21 Maret 2015

Benarkah Dia Lebih Baik?


Dia Lebih Baik Dariku
Rumput Tetangga Selalu Tampak Lebih Hijau

Melihat kehidupan orang lain yang lebih sukses, sejahtera, dan bahagia tak jarang membuat kita iri. Padahal apa yang terlihat belum sepenuhnya benar. Kita tidak benar-benar melihat orang lain secara keseluruhan. Menurut British Psychology Society, melihat kehidupan seseorang dari luar, sama seperti melihat akuarium yang tampak indah dari luar kaca, tapi jika dilihat lebih dalam, maka akan tampak air yang keruh.  
Sikap Iri Datang dari Rasa Takut
Iri akan keadaan orang lain yang kamu anggap lebih baik akan membuang energi dan membuat kamu semakin pesimis. Daripada iri akan keberhasilan dan pencapaian orang lain, lebih baik mempelajari cara mereka untuk dapat sukses, karena tidak ada keberhasilan yang datang secara tiba-tiba. Rasa iri juga akan banyak menyita waktumu, yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk melakukan hal lain. Jika dilihat lebih jauh, rasa iri muncul karena kita merasa “insecure” atas apa yang orang lain dapatkan, serta merasa tidak cukup mampu untuk meraihnya. Adanya rasa iri justru akan menimubulkan persepsi diri bahwa kita “tidak cukup baik”. Padahal anggapan itu belum sepenuhnya benar.  
Bagaimana Mengatasi Rasa Iri

1. Berhenti Membandingkan
Terus-menerus membandingkan diri sendiri dengan orang lain akan membuat lelah, karena setiap orang unik dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Daripada sibuk mencari kekurangan diri, lebih baik fokus pada kelebihan yang dimiliki.  
2. Bersyukur
Setiap orang punya masalah, hanya saja respon tiap orang terhadap masalah berbeda-beda. Mensyukuri apa yang dimiliki akan membuat kamu merasa lebih baik dan dapat mengambil keputusan secara jernih.  
3. Cintai Diri
Daripada iri terhadap kehidupan orang lain yang tampak lebih baik, hargai dan cintai kehidupanmu sekarang. Karena belum tentu kehidupan orang lain lebih baik, karena kita tidak mengetahui secara detail apa yang dia alami.  
4. Tolok Ukur Kebahagiaan itu Berbeda-beda
Tiap orang memiliki definisi kebahagiaan yang berbeda-beda, bergantung pada pengalaman dan tujuan hidupnya. Memaksa diri untuk mengikuti standard orang lain hanya akan membuat kebahagiaan sulit didapat. Menjalani apa yang diyakini dan bersedia bertanggung jawab atas pilihan yang diambil akan membuat hidup terasa berbeda.  
5. Berkumpul dengan Orang-Orang Berpikiran Positif
Karakter orang di sekitarmu sedikit banyak berpengaruh pada karakter dan cara pandangmu. Berteman dengan orang-orang berpikiran positif akan menimbulkan energi positif dalam dirimu.  
Sumber: Prevention, Wikihow

Selasa, 17 Maret 2015

Dua Kantong Berbeda

masjid
Alkisah, ada seseorang yang sangat menikmati kebahagiaan & ketenangan di dalam hidupnya. Orang tersebut mempunyai dua kantong. Pada kantong yang satu terdapat lubang di bawahnya, tapi pada kantong yang lainnya tidak terdapat lubang.

Segala sesuatu yang menyakitkan yang pernah didengarnya seperti makian & sindiran, ditulisnya di sebuah kertas, digulung kecil, kemudian dimasukkannya ke dalam kantong yang berlubang. Tetapi semua yang indah, benar, dan bermanfaat, ditulisnya di sebuah kertas kemudian dimasukkannya ke dalam kantong yang tidak ada lubangnya.

Pada malam hari, ia mengeluarkan semua yang ada di dalam saku yang tidak berlubang, membacanya, dan menikmati hal-hal indah yang sudah diperolehnya sepanjang hari itu. Kemudian ia merogoh kantong yang ada lubangnya, tetapi ia tidak menemukan apa pun. Maka ia pun tertawa dan tetap bersukacita karena tidak ada sesuatu yang dapat merusak hati dan jiwanya.

Teman2.. Itulah yang seharusnya kita lakukan. Menyimpan semua yang baik di “kantong yang tidak berlubang”, sehingga tidak satupun yang baik yang hilang dari hidup kita. Sebaliknya, simpanlah semua yang buruk di “kantong yang berlubang”. Maka yang buruk itu akan jatuh dan tidak perlu kita ingat lagi.

Namun sayang sekali.. masih banyak orang yang melakukan dengan terbalik! Mereka menyimpan semua yang baik di “kantong yang berlubang”, dan apa yang tidak baik di “kantong yang tidak berlubang” (alias memelihara pikiran-pikiran jahat dan segala sesuatu yang menyakitkan hati). Maka, jiwanya menjadi tertekan & tidak ada gairah dalam menjalani hidup.
Oleh karena itu, agar bisa menikmati kehidupan yang bahagia dan tenang: jangan menyimpan apa yang tidak baik di dalam hidup kita (tahukah Anda: sakit hati, iri hati, dendam, dan kemarahan juga bisa menyebabkan penyakit serius bahkan kematian). Mari mencoba, menyimpan hanya yang baik dan bermanfaat.

Senin, 16 Maret 2015

Kisah Haru Segelas Susu

zuhal
bulan awal Januari 1987 silam, usai pesta perayaan malam pergantian th, ada seorang bocah lelaki miskin yang hidup dari menjual barang asongan dari pintu ke pintu, menemukan bahwa di kantongnya hanya tersisa beberapa Rupiah uangnya, dan kala itu dia sangat lapar sekali.

Bocah kecil tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari rumah berikutnya. Akan tetapi anak itu kehilangan keberanian saat seorang wanita muda cantik membuka pintu rumah. Bocah kecil itu tidak jadi meminta makanan, ia hanya berani meminta segelas air. Dan wanita muda tersebut melihat dengan menyelidik, dan berpikir bahwa anak lelaki tersebut pastilah lapar, oleh karena itu ia membawakan segelas besar susu segar dari dalam lemari es nya.

Bocah itu tertegun heran & meminumnya dengan lambat, seraya ditatap dengan penuh iba hati dari wanita tsb, dan tak lama kemudian bocah kecil itu bertanya dengan polos, ” Berapa saya harus membayar untuk segelas besar susu ini..???” dan Wanita itu menjawab dengan penuh senyuman, seraya berkata : “Kamu tidak perlu membayar apapun dik”. ” sejak kami kecil, Ibu kami mengajarkan untuk tidak menerima bayaran untuk segala bentuk kebaikan” kata wanita itu dengan suara yg bijak & terdengar ikhlas. Seraya menitikan airmata Bocah lelaki itu kemudian menghabiskan susunya dan berkata : ” Dari dalam hatiku yg paling dalam, aku berterima kasih banyak pada Anda…Semoga Allah SWT membalas ketulusan & kebaikan Anda…”

Singkat cerita, 22tahun kemudian, wanita muda tersebut, menjadi tua dan mengalami sakit yang sangat serius dan kritis. Para dokter diseluruh kota-kota besar di Jawa Barat sudah tidak ada yang sanggup menangani penyakitnya. Mereka akhirnya mengirimnya ke kota Jakarta, di mana terdapat dokter spesialis yang sangat ahli, disebuah Rumah Sakit terkenal mampu menangani penyakit langka tersebut untuk melakukan pemeriksaan lebih dalam. Pada saat Dokter Spesialis itu mendengar nama & kota asal si wanita tersebut dari susternya, terbersit seberkas pancaran aneh pada mata dokter tsb. Segera ia bangkit dan bergegas turun melalui hall rumah sakit paling Bonafid diJakarta itu, & segera menuju kamar sipasien wanita tersebut dirawat.

Dengan berpakaian jubah kedokteran, dokter muda tsb menemui si wanita itu. Ia langsung mengenali wanita itu pada sekali pandangan pertama. Ia kemudian kembali ke ruang konsultasi team dokter dan memutuskan untuk melakukan upaya yang paling terbaik untuk menyelamatkan nyawa wanita itu. dan sejak hari itu, Ia selalu memberikan perhatian yg sangat spesial & khusus pada kasus penyakit pasien wanita tua yg satu itu.

Setelah melalui perjuangan yang sangat panjang, akhirnya diperoleh kemenangan.. . . Wanita itu sembuh..!! dan Dr. Spesialis ini meminta bagian keuangan rumah sakit untuk mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya untuk persetujuan dan rekapitulasi pengobatannya. ..tak lama berselang kemudian Dokter melihat tagihannya, dan menuliskan sesuatu pada pojok atas lembar tagihan, dan kemudian mengirimkannya ke kamar pasien melalui salah satu susternya. Sejenak Wanita tua itu takut untuk membuka tagihan tersebut, dibenaknya ia sangat yakin bahwa ia tak akan mampu membayar tagihan tersebut walaupun harus dicicil seumur hidupnya…

Akhirnya dengan membaca Basmallah Ia memberanikan diri untuk membuka & membaca tagihan tersebut, dan ia sangat terkejut ternyata sudah dibayar lunas semua tagihannya selama 2 bulan perawatan dirinya, & ada sesuatu yang menarik perhatiannya pada pojok atas lembar tagihan tersebut. Ia membaca tulisan tebal yg dicap stempel Rumah Sakit & berbunyi…. “Telah dibayar lunas 22th yg lalu dengan segelas besar susu…” tertanda…(Nama Dokter Spesialis yg merawatnya) kontan saja bersimbah Air mata kebahagiaan membanjiri matanya. Ia berdoa lirih seraya mengucapkan : ” Subhannallah…., terima kasih ya Allah, bahwa cinta & kasih Sayang MU telah menyirami seluruh bumi ini melalui hati dan tangan-tangan hambamMu yang kau kehendaki….”

Demikian lah, sepenggal kisah nyata ini, Hikmah dibalik peristiwa ini adalah: “Setiap Kebaikan yang dilakukan dengan penuh ke Ikhlasan hati seorang hamba kepada hamba Allah lainnya, kelak pasti akan dibayar Allah dengan jalan yg tiada disangka-sangka…” Begitupun sebaliknya… Karna Dia lah yg Maha menggenggam dibalik setiap kejadian didunia ini….

Minggu, 15 Maret 2015

Dendam Yang Berubah


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

SEORANG lelaki yang tinggal menumpang di rumah ibunya Beberapa saat tinggal bersamanya, akhirnya ia demikian kesal dengan ibunya yang menurutnya sangat brengsek, cerewet, bawel,dan angkuh sekali.Suka memerintah pada hal-hal yang tidatidak di sukainya Setelah beberapa tahun, baginya cukup sudah penderitaan itu. Ia memutuskan untuk mengakhiri dengan berencana membunuh ibunya. Setelah memutar otak, ia pergi mendatangi dukun yang paling sakti di daerahnya.

Usai bercerita dengan penuh kegeraman, sang dukun tersenyum dan mengangguk-angguk. Diberinya sebotol cairan yang menurut petunjuk dukun adalah racun yang sangat mematikan. Syaratnya harus diberikan sedikit demi sedikit selama 2 bulan, dan dalam memberikan ia diharuskan bersikap manis, berkata lebih sopan, serta selalu tersenyum. Hal ini untuk membuat si ibu supaya tidak mencurigainya. Dengan penuh kesabaran, hari demi hari ia mulai meracuni ibunya tentunya dengan sikap manis, tutur kata yang lebih santun serta senyum yang tidak lepas dari mulutnya. Perlahan namun pasti ia mulai melihat perubahan pada ibunya

Ada satu hal yang membuatnya bingung, setelah satu bulan ia meracuni ibunya, kelakuan ibunya ini justru berubah menjadi demikian baik padanya. Sikapnya berubah 180 derajat dari sebelumnya, ia mulai menyapa lebih dahulu setiap kali ketemu. Pikirnya, ini pasti akibat awal dari racun itu, yakni adanya perubahan sikap sebelum akhirnya meninggal. Mendekati hari ke-40 sikap ibu semakin baik dan hubungan dengannya semakin manis, ia mulai membuatkan minum teh di pagi hari, menyediakan pisang goreng dan seterusnya. Sebuah perilaku ibu yang dulu tidak pernah ia bayangkan akan terjadi.

Puncaknya pada hari ke-50 ibunya memasakkan makanan yang paling ia sukai, bahkan di pagi harinya ia terkejut saat mendapati bajunya sudah dicuci bahkan diseterika oleh si ibu Tak ayal lagi, hati kecilnya mulai memberontak. Muncullah rasa bersalah yang makin hari makin menguat. Pada hari ke-55, sudah tak terbendunglagi penyesalan itu, karena melihat perubahan si Ibu yang menjadi sedemikian sayang padanya. Akhirnya pergilah ia ke dukun itu lagi, dengan terbata-bata penuh penyesalan dan rasa berdosa ia memohon-mohon untuk dibuatkan penangkal racun yang pernah diberikan sang dukun padanya.

Dengan senyum bijaksana bak malaikat, dukun itu berkata “Cairan yang kuberikan padamu dulu itu bukanlah racun, namun air biasa yang kuberi warna saja. Sikap ibumu yang berubah menjadi sayang padamu, disebabkan karena SIKAP DIRIMU YANG TERLEBIH DAHUU BERUBAH MENJADI LEBIH RAMAH, LEBIH SANTUN DAN SELALU SENYUM PADANYA.Serta kamu bantu pekerjaannya, sehingga dia merasa terbantu dengan keberadaan mu

Ada beberapa pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah di atas. Pertama, sikap buruk/penolakan orang lain, hanyalah sebagai akibat/reaksi atas sikap buruk kita padanya. Kedua, kalau mau mengubah orang lain, kitalah yang berubah dahulu. Selamat mencoba!

Senin, 09 Maret 2015

Apakah Kita Begini?

Alkisah, ada seorang Ibu yang tidak sengaja menabrak seorang pejalan kaki ketika sedang berjalan di trotoar. "Oh, maaf," kata sang Ibu.
Jawab si pejalan kaki itu, "Maafkan saya juga. Saya tak memperhatikan Anda." Mereka berdua bersikap sangat sopan. Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanannya masing-masing.


Namun ketika tiba di rumah, berlangsung kisah yang berbeda. Betapa berbedanya sang Ibu dalam memperlakukan seorang yang sangat dikasihinya. Menjelang malam hari, saat sang Ibu sibuk memasak makan malam, anak perempuan satu-satunya berdiri diam di sampingnya. Ketika berbalik badan, sang Ibu nyaris saja menabrak anaknya. Karena terkejut, sang Ibu menjadi jengkel. "Menyingkir sana. Jangan berdiri di situ!" hardik sang Ibu dengan raut muka yang berkerut. Sang anak pun meninggalkan dapur, dengan hati yang sedikit terluka. Sang Ibu sungguh tak menyadari betapa kasar caranya berbicara tadi.

Tanpa kita sadari, cerita di atas juga sering kita alami sendiri. Betapa kita bisa bersikap sangat sopan dan santun dalam berbicara kepada orang lain, yang baru kita kenal sekalipun, namun semua itu langsung berubah begitu kita menghadapi anggota keluarga kita, atau kerabat, atau sahabat, atau orang-orang dekat kita. Mari, jadikan kisah ini sebagai "batu pijakan pertama" kita untuk mengubah kebiasaan tidak baik itu, agar ke depannya kita bisa lebih menjaga sikap dan perkataan kita kepada siapa pun yang kita temui.

Kamis, 05 Maret 2015

Hidup Adalah Cerminan Diri Kita


Ada seorang anak dan ayahnya sedang berjalan- jalan di lereng bukit.
Tiba-tiba, anak itu terjatuh, kakinya yang terluka membuatnya berteriak kesakitan, “AAAhhhhhhhh!!!” Betapa terkejutnya anak itu, begitu mendengar suara balasan entah dari arah mana, ”AAAhhhhhhhh!!!”

Merasa penasaran, anak itu berteriak jengkel, “Siapa kamu?” Jawaban yang diterimanya tetap sama, ”Siapa kamu?” Semakin marah, anak itu pun berteriak lagi, ”Dasar pengecut!” Ia lagi-lagi mendapat jawaban, ”Dasar pengecut!” Anak itu berpaling pada ayahnya dan bertanya, ”Apa yang terjadi sih, Yah?”

Si ayah tersenyum dan berkata, ”Anakku, coba perhatikan yah.”
Lalu, berteriaklah si ayah ke arah lereng bukit, ”Aku mengagumimu!”
Suara lain menjawab, ”Aku mengagumimu!”
Sekali lagi, si ayah berteriak, ”Kamu sang juara!”
Suara itu kembali menjawab, ”Kamu sang juara!”
Anak itu terkejut, tapi masih belum paham.

Lalu, ayahnya menjelaskan, ”Ini disebut gema, tapi seperti itulah kehidupan kita. Hidup ini akan membalas pada kita apa pun yang kita katakan atau lakukan. Hidup kita adalah cerminan dari perbuatan kita. Jika kamu ingin menerima banyak kasih sayang di dunia, ciptakan lebih banyak kasih sayang dalam hatimu. Jika kamu ingin semakin pintar, tambah kemampuanmu. Hal ini berlaku dalam segala hal. Hidup akan membalas apa pun yang sudah kamu berikan.”

Seperti halnya gema di lereng bukit dalam kisah di atas, kehidupan kita ini bukanlah sebuah kebetulan. Hidup ini adalah cerminan diri kita.
Apa yang kita berikan saat ini, itulah yang akan kita terima nanti.
Apa yang kita tanam saat ini, itulah yang akan kita petik nanti. Kita berbuat baik pada saudara kita, saudara kita akan berbuat baik/menghargai kita. Begitu juga sebaliknya.

Minggu, 01 Maret 2015

Kisah Pemuda Yang Ikhlas


Yang menyaksikan peristiwa ini bercerita:

Suatu hari aku di Mekah di salah satu supermarket. Setelah aku selesai memilih barang-barang yang hendak aku beli dan aku masukan ke kereta barang maka akupun menuju tempat salah satu kashir untuk ngantri membayar. Didepanku ada seorang wanita bersama dua putri kecilnya, dan sebelum mereka ada seorang pemuda yang persis di hadapanku di posisi antrian.

Aku perhatikan ternyata setelah menghitung lalu sang kashir mengatakan, "Totalnya 145 real". Lalu sang wanitapun memasukan tangannya ke tas kecilnya untuk mencari-cari uang, ternyata ia hanya mendapatkan pecahan 50 realan dan beberapa lembar pecahan sepuluhan realan. Aku juga melihat kedua putrinya juga sibuk mengumpulkan uang pecahan realan miliki mereka berdua hingga akhirnya terkumpulah uang mereka 125 real.
Maka nampaklah ibu mereka berdua kebingungan dan mulailah sang ibu mengembalikan sebagian barang-barang yang telah dibelinya. Salah seorang putrinya berkata, "Bu.., yang ini kami tidak jadi beli, tidak penting bu..".

Tiba-tiba aku melihat sang pemuda yang berdiri persis di belakang mereka melemparkan selembar uang 50 realan di samping sang wanita dengan sembunyi-sembunyi dan cepat. Lalu sang pemuda tersebut segera berbicara kepada sang wanita dengan penuh kesopanan dan ketenangan seraya berkata, "Ukhti, perhatikan, mungkin uang 50 realan ini jatuh dari tas kecilmu…".

Lalu sang pemuda menunduk dan mengambil uang 50 realan teresbut dari lantai lalu ia berikan kepada sang wanita. Sang wanitapun berterima kasih kepadanya lalu melanjutkan pembayaran barang ke kashir, kemudian wanita itupun pergi.

Setelah sang pemuda menyelesaikan pembayaran barang belanjaannya di kashir iapun segera pergi tanpa melirik ke belakang seakan-akan ia kabur melarikan diri. Akupun segera menyusulnya lalu aku berkata, "Akhi… sebentar dulu…!, aku ingin berbicara denganmu sebentar". Lalu aku bertanya kepadanya, "Demi Allah, bagaimana kau punya ide yang cepat dan cemerlang seperti tadi?"

Tentunya pada mulanya sang pemuda berusaha mengingkari apa yang telah ia lakukan, akan tetapi setelah aku kabarkan kepadanya bahwa aku telah menyaksikan semuanya, dan aku menenangkannya dan menjelaskan bahwasanya aku bukanlah penduduk Mekah, aku hanya menunaikan ibadah umroh dan aku akan segera kembali ke negeriku, dan kemungkinan besar aku tidak akan melihatnya lagi.

Lalu iapun berkata, "Saudaraku, demi Allah aku tadi bingung juga, apa yang harus aku lakukan, selama dua menit tatkala sang wanita dan kedua putrinya berusaha mengumpulkan uang mereka untuk membayar kashir…, akan tetapi Robmu Allah subhaanahu wa ta'aala mengilhamkan kepadaku apa yang telah aku lakukan tadi, agar aku tidak menjadikan sang wanita malu dihadapan kedua putrinya… Demi Allah, saya mohon agar engkau tidak bertanya- tanya lagi dan biarkan aku pergi". Aku berkata kepadanya, "Wahai saudaraku, aku berharap engkau termasuk dari orang-orang yang Allah berfirman tentang mereka :
ﻓَﺄَﻣَّﺎ ﻣَﻦْ ﺃَﻋْﻄَﻰ ﻭَﺍﺗَّﻘَﻰ ‏(٥ ‏) ﻭَﺻَﺪَّﻕَ ﺑِﺎﻟْﺤُﺴْﻨَﻰ ‏( ٦ ‏) ﻓَﺴَﻨُﻴَﺴِّﺮُﻩُ ﻟِﻠْﻴُﺴْﺮَﻯ ‏( ٧ )
"Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah" (QS Al-Lail 5-7)

Lalu sang pemuda itupun menangis, lalu meminta izin kepadaku dan berjalan menuju mobilnya sambil menutup wajahnya.


Semoga kita bisa meneladaninya. Amin.