Jumat, 28 November 2014

Berapakah kecukupan kita?


Alkisah, seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib. Mata air itu bisa mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya. Mata air itu bisa membuat si petani menjadi kaya raya seberapapun yang diinginkannya, sebab kucuran uang emas itu baru akan berhenti bila si petani mengucapkan kata ”cukup”.
Seketika si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan di depan hidungnya. Diambilnya beberapa ember untuk menampung uang kaget itu. Setelah semuanya penuh, dibawanya ke gubug mungilnya untuk disimpan disana.
Kucuran uang terus mengalir sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya.
Masih kurang!

Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya. Belum cukup, dia membiarkan mata air itu terus mengalir hingga akhirnya petani itu mati tertimbun bersama ketamakannya karena dia tak pernah bisa berkata cukup.
Kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia barangkali adalah kata ”cukup”.
Kapankah kita bisa berkata cukup?
Hampir semua pegawai merasa gajinya belum bisa dikatakan sepadan dengan kerja kerasnya.
Pengusaha hampir selalu merasa pendapatan perusahaannya masih dibawah target.
Istri mengeluh suaminya kurang perhatian.
Suami berpendapat istrinya kurang pengertian.
Anak-anak menganggap orang tuanya kurang murah hati.
Semua merasa kurang dan kurang.

Kapankah kita bisa berkata cukup?

Cukup bukanlah soal berapa jumlahnya.
Cukup adalah persoalan kepuasan hati.
Cukup hanya bisa diucapkan oleh orang yang bisa mensyukuri.
Tak perlu takut berkata cukup.

Mengucapkan kata cukup bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya. ”Cukup” jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, Mandegdan berpuas diri. Mengucapkan kata cukup membuat kita melihat apa yang telah kita terima, bukan apa yang belum kita dapatkan. Jangan biarkan kerakusan manusia membuat kita sulit berkata cukup. Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia.

Belajarlah untuk berkata ”Cukup”

Senin, 24 November 2014

Berfikir positif


Motivator Mesir, DR Ibraahim al-Faqqy rahimahullah menceritakan,
“Dikisahkan ada seorang ibu yang selalu menangis sepanjang waktu. Puterinya yang besar dinikahi oleh seorang penjual payung. Sedangkan puterinya yang kedua dinikahi oleh seorang penjual makaroni.

Ketika datang musim kemarau, sang ibu menangis memikirkan puterinya yang besar, khawatir payungnya tak laku di musim kemarau. Jika datang musim penghujan, iapun juga menangis karena memikirkan puterinya yang kedua, karena tentu suaminya tak bisa menjemur makaroni yang hendak dijualnya.

Begitulah keadaannya sepanjang musim, bersedih memikirkan keadaan kedua puterinya. Hingga suatu hari, ada orang bijak yang menemuinya dan bertanya kepadanya akan sebab tangisnya yang berkepanjangan. Ketika sang ibu menceritakan kasusnya, tersenyumlah orang bijak itu dan berkata,:

“Seyogyanya ibu merubah cara pandang menghadapi masalah. Ibu tidak mampu merubah musim. Maka jika matahari bersinar terang, pikirkanlah keadaan puterimu yang kecil, betapa senangnya ia karena suaminya bisa menjemur makaroni dan menjualnya. Dan ketika datang musim penghujan datang, pikirkanlah puterimu yang besar, dan betapa payungnya akan laku keras.”

Dengan nasihat ini, berhentilah tangis sang ibu, dan ia lebih banyak bahagia dan syukurnya.

Jika Kita tidak mampu merubah keadaan, setidaknya Kita bisa merubah sudut pandang dalam melihat keadaan yang mampu menghadirkan rasa syukur dan kebahagiaan sekaligus.

Selasa, 18 November 2014

Eksis di sela krisis


Sebagai insan beriman, apapun yang kita hadapi di sekitar kita, tak lepas dari kehendak yang maha kuasa yang pasti sudah mengukur dengan kemampuan yang kita miliki.

Indonesia tempat hidup kita, adalah negara dengan keanekaragaman di dalamnya, yang kaya akan potensi yang tidak semua negara mmemiliki nya. Baik sumberdaya alam maupun sumberdaya manusia yang unggul.

Hanya saja keterpurukan yang selama ini kita hadapi, semata-mata kurangnya synergi sesama anak bangsa dalam mensikapi  gejala yang terjadi.

Mari kita mulai dari diri sendiri bersikap positif, berpikir positif, berperilaku positif, dan selalu punya perasaan positif pada diri sendiri dan orang lain.

Andaikan setiap orang melakukannya,  niscaya kehidupan akan terasa menentramkan pada yang lain. Meskipun serba diliputi kekurangan, akan merasakan kenyamanan hidup.

Atas segala kekurangan, diusahakan secara bersama-sama secara gotongroyong dengan tujuan sama sama bangkit dari keterpurukan. Segala potensi diri dicurahkan Secara all out, sehinggacita cita bersama dalam meraih mimpi bersama akan mudah terwujud.

Akhir kata, selamat berjuang menuju harapan menuju hal yg lebih baik di masa depan. Masalah bukan untuk di hindari, tapi kita cari bersama-sama jalan keluar nya. Siapa yg bersungguh-sungguh maka Allah akan menunjukkan jalan Nya.

Semangat, demi kehidupan yang lebih baik.