Senin, 09 Februari 2015

Nerimo ing Pandum



Oleh Andrie Wongso

Masing-masing orang terlahir dengan takdirnya masing-masing. Ada yang terlahir dalam kondisi normal, ada yang kurang (disable), ada yang kaya, ada yang miskin, dan sebagainya. Kita sendiri tak bisa memilih akan dilahirkan di mana dan bagaimana wujudnya. Karena itu, ada anggapan bahwa nasib itu tak bisa diubah. Banyak yang berpendapat, jika terlahir sebagai anak pengemis, mati pun akan jadi pengemis. Ada yang mengatakan si dia kaya karena memang dia terlahir dari keluarga berada.

Padahal sejatinya, sejarah telah membuktikan. Ada banyak kisah nyata di dunia, orang-orang hebat yang mampu mengubah nasibnya. Mereka berjuang dari nol—bahkan minus—hingga sukses. Bahkan, ada yang kemudian diuji dengan ujian yang membuatnya jatuh lagi ke titik yang negatif lagi. Namun, dengan keyakinan kuat, mereka berjuang, bergerak, kembali bangkit, dan ujungnya, mampu menjadi “pahlawan” tipikal from zero to hero di bidangnya masing-masing.

Saya sendiri berasal dari keluarga yang kurang mampu, miskin, dengan berjuta alasan yang—jika saya tetap miskin hari ini—bisa dijadikan pembenaran bahwa nasib saya memang hanya akan begitu-begitu saja. Tapi, suatu kali orangtua saya mengatakan: “Sepanjang gunung masih menghijau, jangan takut kehabisan kayu bakar.” Inilah salah satu wejangan yang membuat saya yakin, ada banyak “kayu bakar” yang membuat saya bisa terus hidup dan berkembang, hingga akhirnya sukses seperti saat ini.

Inilah gambaran nyata yang saya alami dan inilah yang menurut saya adalah bagian terbaik dari diri—the best of me. Yakni, saya meyakini dan menyadari, bahwa sukses adalah hak semua orang. Maka, ketika saya mendengar nasihat Jawa yang sering diucapkan: nrimo ing pandum, yang berarti menerima apa yang sudah jadi bagian kita, nasihat tersebut saya artikan dengan sudut pandang yang berbeda. Yakni, kita menerima, kita pasrah, kita berserah, kita mau menerima apa adanya, namun dengan kondisi pasrah yang bukan pasif dan menunggu keadaan membaik, tanpa berbuat apa-apa. Pepatah nrimo ing pandum ini saya maknai sebagai sikap untuk selalu proaktif guna menciptakan peluang dan mencari cara untuk memperbaiki berbagai kondisi yang kita anggap kurang.

Hal tersebut boleh jadi sejalan dengan sebuah ungkapan bahasa latin: Homo proponit, sed Deus disponit yang artinya lebih kurang: manusia merencanakan tetapi Tuhan yang menentukan. Senada dengan nrimo ing pandum, saya pun mengartikan manusia berencana adalah “kewajiban melakukan tindakan” sebelum Tuhan berkehendak. Sehingga, saat hasil yang didapat belum sesuai dengan yang diinginkan, kita pasrah dan berserah, namun tetap dengan sikap proaktif untuk mengevaluasi semua kondisi dan berusaha untuk memperbaiki.
Mari, menerima apa yang jadi bagian kita, setelah sebelumnya berjuang mati-matian. Saya yakin, dengan sikap tersebut, “success is my right” akan benar-benar terwujud, jadi milik kita.
Salam sukses luar biasa!

Sabtu, 07 Februari 2015

Tak ada jalan pintas



Nasehatin diri sendiri:

Keberhasilan tak diperoleh begitu saja. Ia adalah buah dari pohon kerja keras yang berjuang untuk tumbuh. Jangan terlalu berharap pada kemujuran.

Apakah kita tahu apa itu kemujuran? Apakah kita dapat mendatangkan kemujuran sesuai keinginan kalian? Padahal kita tahu, kita tak selalu mampu menjelaskan dari mana datangnya.

Sadarilah bahwa segala sesuatu berjalan secara alami dan semestinya. Layaknya proses mendaki tangga, kita melangkahkan kaki  melalui anak tangga satu per satu.

Tak perlu repot-repot membuang waktu untuk mencari jalan pintas, karena memang tak ada jalan pintas. Sesungguhnya kemudahan jalan pintas itu takkan pernah memberikan kepuasan sejati.

Untuk apa berhasil jika kita tak merasa puas?

Hargailah setiap langkah kecil yang membawa anda maju. Janganlah melangkah dengan ketergesaan, karena ketergesaan adalah beban yang memberati langkah saja.

Amatilah jalan lurus. Tak peduli bergelombang maupun berbatu, selama kita yakin berada di jalan yang tepat, maka melangkahlah terus.

Ketahuilah, jalan yang tepat itu adalah jalan yang menuntun kita menjadi diri kita sendiri.

Jumat, 06 Februari 2015

Diatas Langit Ada Langit


Pada suatu hari, seorang pengusaha sedang memotong rambutnya pada tukang cukur yang berdomisili tak jauh dari kantornya, mereka melihat ada seorang anak berusia 10 tahunan berlari-lari dan melompat-lompat di depan mereka.

Tukang cukur berkata, ”Itu Benu, dia anak paling bodoh yang pernah saya kenal”

”Masak, apa iya?” jawab pengusaha

Lalu tukang cukur memanggil si Benu, ia lalu merogoh kantongnya dan mengeluarkan lembaran uang Rp.2.000 dan koin Rp.1.000, lalu menyuruh Benu memilih, ”Benu, kamu boleh pilih dan ambil salah satu uang ini, terserah kamu mau pilih yang mana, ayo ambil!”

Benu melihat ke tangan Tukang cukur dimana ada uang Rp.2.000 dan Rp.1.000, lalu dengan cepat tangannya bergerak mengambil uang Rp.1.000.

Tukang cukur dengan perasaan bangga lalu melirik dan berbalik kepada sang pengusaha dan berkata, ”Benar kan yang saya katakan tadi, Benu itu memang anak terbodoh yang pernah saya temui. Sudah tak terhitung berapa kali saya ngetes dia seperti itu tadi dan dia selalu mengambil uang logam yang nilainya lebih kecil.”

Setelah sang pengusaha selesai memotong rambutnya, di tengah perjalanan pulang dia bertemu dengan Benu. Karena merasa penasaran dengan apa yang dia lihat sebelumnya, dia pun memanggil Benu dan bertanya, ”Benu, tadi saya melihat sewaktu tukang cukur menawarkan uang lembaran Rp.2.000 dan Rp.1.000, saya lihat kok yang kamu ambil uang yang Rp.1.000, kenapa tak ambil yang Rp.2.000, nilainya kan lebih besar 2 kali lipat dari yang Rp.1.000?”

Benu pun tertawa kecil berkata, ”Saya tidak akan dapat lagi Rp.1.000 setiap hari, karena tukang cukur itu selalu penasaran kenapa saya tidak ambil yang seribu. Kalau saya ambil yang Rp.2.000, berarti permainannya selesai dan kapan lagi saya dapat uang jajan gratis setiap hari.”

Banyak orang yang merasa lebih pintar dibandingkan orang lain, sehingga mereka sering menganggap remeh orang lain. Ukuran kepintaran seseorang hanya TUHAN yang mengetahuinya. Alangkah bijaksananya jika kita tidak menganggap diri sendiri lebih pintar dari orang lain. Di atas langit masih ada langit yang lain.

Koin Penyok


Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan.

Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.

Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya. “Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank.

“Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya kekolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar.

Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu.

Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.

Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.

Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?”

Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.

Bila kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?